Rabu, 23 Oktober 2013

Putra Malang Yang Dibakar Ibu kandungnya

03.47 By

Ibu adalah sosok pelindung bagi anak-anaknya dan juga bagi keluarganya. Ibu melindungi keluarga dengan kelembutan dan kasih sayang tulus. Hal inilah yang membuat sosok ibu menjadi sangat istimewa di mata keluarga dan anak-anaknya.

Namun salah satu kasus di Concord, Massachusetts, Amerika Serikat ini membuat sosok ibu menjadi berbeda dari umumnya. Christine Gelineau adalah seorang ibu yang berusia 30 tahun. Sang ibu mempunyai anak laki-laki yang tinggal dengannya. Entah karena apa, Christine suka menyiksa anaknya hingga anaknya mengalami luka bakar yang cukup serius.

Christine merasa kecewa karena anaknya yang malas sekolah mengakibatkan dia tidak lagi menerima dana pemerintah untuk bantuan pendidikannya. Kemarahannya ini membuatnya membakar kemaluan anaknya. Sang anak yang masih berusia 18 tahun itu harus mengalami cedera luka bakar tingkat tiga yang cukup parah. Selain itu kerusakan saraf secara permanen juga diakibatkan oleh perbuatan ibunya ini. Sungguh tega Christine melakukan ini kepada buah hati yang telah dikandungnya selama 9 bulan.

Ternyata penyiksaan itu bukan yang pertama kali dilakukan oleh Christine. Mulai dari melukainya dengan ujung pena hingga mematahkan kakinya. Kejadian ini tercium pihak berwajib ketika seorang tetangga mengetahui penyiksaan yang dilakukan Christine terhadap anaknya. Dia lalu melaporkan hal ini dan pada akhirnya Christine ditangkap.

Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama 30 tahun kepada Christine. Momen menyedihkan ada ketika sang anak membacakan surat pernyataan ketika pengadilan Christine berlangsung. Dia mengatakan semua hal yang telah dilakukan sang ibu kepadanya dan mengucapkan kata-kata perpisahan. Christine hanya menangis mendengar hal ini. Entah apa yang dia pikirkan ketika melakukan penyiksaan kepada putranya.
Tak terbayangkan sakit hati yang harus dialami oleh putra Christine. Selain luka fisik, trauma dan kenangan buruk akan selalu hadir di hari-harinya. Saat ini dia tinggal bersama paman dan bibinya di kota lain.

0 komentar:

Poskan Komentar