Jumat, 06 September 2013

Sonny Tanpa Ericsson

03.51 By


Awal 2012, Sony mengumumkan perubahan brand Sony-Ericsson menjadi Sony Mobile Communications setelah raksasa elektronik Jepang itu membeli seluruh saham Ericsson. 

Sony Mobile Communications pun sepenuhnya menjadi anak perusahaan yang dimiliki oleh Sony. Namun, perubahan ini tak sekadar soal nama, tetapi juga turut membawa dampak luas bagi kegiatan bisnis produsen perangkat mobile itu.

"Kami mencatat setidaknya ada tiga perubahan besar yang positif dari transisi ini," ujar Presiden dan CEO Sony Mobile Kunimasa Suzuki dalam wawancara eksklusif dengan Kompas Tekno di Jakarta. kemarin.

Perubahan pertama disebut Suzuki mencakup proses pengembangan produk yang kini lebih leluasa memakai aset-aset teknologi milik Sony—seperti misalnya Bravia Engine—pada smartphone produksi Sony Mobile. Lalu ada juga keuntungan dalam hal penjualan dan pemasaran, yang dalam hal ini Sony Mobile bisa mengakses jaringan-jaringan ritel Sony di seluruh dunia.

"Yang ketiga dan tak kalah penting adalah Sony Mobile bisa berkolaborasi dengan Sony dan mendapat akses ke rekanan-rekanan produsen komponen," imbuh Suzuki, sambil menambahkan bahwa pengaruh Sony di depan para rekanan tersebut adalah salah satu poin kekuatan Sony Mobile di dunia gadget.

Dengan semua perubahan ini, Suzuki berharap perusahaannya bisa berjaya di tengah persaingan dunia mobile. "Sudah jadi tujuan kami bahwa Sony harus memimpin pasar."

Kejar tiga besar

Seusai merampungkan transisi kepemilikan dari Ericsson menjadi anak perusahaan Sony sepenuhnya pada awal Januari lalu, Wakil Presiden Korporat Sony Mobile Communications untuk wilayah Asia Pasifik dan Oceania Matthew Lang mengatakan bahwa Sony Mobile kini siap menggunakan semua sumber daya yang tersedia untuk bersaing.

"2013 adalah tahun penuh gebrakan untuk Sony. Kami tahun ini menargetkan jadi produsen ketiga terbesar di dunia," ujar Lang. Untuk sekarang, lanjut dia, posisi Sony masih berada dalam posisi yang sama dengan banyak pabrikan lain yang juga menduduki posisi nomor tiga. "Kami ingin jadi nomor tiga yang 'absolut'."

Dalam upayanya merengkuh lebih banyak pangsa pasar, Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar yang paling penting di wilayah Asia Tenggara. "Indonesia dan Malaysia menyumbang 50 persen pasar di Asia Tenggara. Indonesia sendiri adalah pasar terbesar di Asia di luar China," ujar Lang. Sebagai tanda keseriusan Sony, tahun ini perusahaan tersebut menyatakan bakal menambahkan nilai investasi hingga hampir dua kali lebih besar dari sebelumnya.

0 komentar:

Poskan Komentar